Wednesday, April 9, 2014

Don't Judge a Books by it's Cover


TIDAK SEMUA ANAK PUNK BERBUAT RESE !!!

Jangan mencap miring anak punk, kalo belom tau. Mereka emang cuek, tapi juga tau diri. Kenapa mesti berpakaian lusuh?

“Awas anak punk!” Peringatan kayak gitu masih sering terdengar begitu melihat segerombolan anak punk di jalan. Maklum, penampilan anak punk emang bikin “keder” banyak orang. Jaket lusuh yang dipenuhi emblem, sepatu boots Doc Mart, celana panjang ketat, spike (gelang berjeruji) di tangan, rambut tajamnya yang bergaya mohawk (mohak) bikin punkers terkesan garang....

Bukan hanya penampilan yang membuat imej punk jadi “lain” dari komunitas remaja kebanyakan, tapi juga tingkah mereka. Bergerombol di jalan, kadang sampe pagi, dan kadang suka terlibat tawuran. Maka, kompletlah punk kena cap sebagai komunitas yang bermasalah. Padahal, apa sebenernya anak punk kayak gitu? Tukang bikin rusuh?

“Salah banget kali, orang-orang ngelihat kita kayak sampah masyarakat. Mereka yang mikir begitu, sebenarnya nggak tau apa-apa tentang kita,”

Penampilan punk yang lusuh bukan berarti kelakuan mereka juga minus. Apalagi penampilan kayak gitu udah menjadi cirri khas punk. Mungkin kelihatan lusuh, dekil, kayak orang aneh, tapi kita nggak pernah ngelakuin tidak criminal kayak maling. “Kalo ada anak punk yang malak, dia nggak ngerti arti punk sebenarnya. Mungkin cuma dandanan luar doang yang punk, dalemnya nggak tau apa-apa,”.

Tapi nggak bisa dipungkiri, penampilan, penampilan punk yang sering kelihatan lusuh nggak terlepas dari sejarah kelahiran punk itu sendiri.Punk lahir di jalanan, dari orang-orang yang tertindas kayak gembel, buruh dan gelandangan yang benci sama kapitalis di Eropa. Mereka benci ama orang kaya yang serakah dan penindas orang miskin.

“Mereka akhirnya terbuang, sampe terus bikin komunitas sendiri. Tapi, kalo lantas dianggap kriminal, ya salah. Punk malah punya jiwa sosial dan solidaritas yang tinggi, terutama buat kelompoknya. Mereka juga memihak rakyat kecil,”

BANYAK ALIRAN

Penampilan seperti itu, juga diikutin abis ama anak punk di Indonesia. Tapi, bukan karena semata karena penampilan yang bikin banyak remaja tertarik masuk kedalam komunitas punk, melainkan karena motto anak punk itu sendiri. Equality (persamaan hak)!

Opini :
Sangat masuk di akal bahwa anak punk tidak semuanya memiliki prilaku yang negatif. Adanya tindak tanduk yang meresahkan masyarakat oleh anak punk hanyalah sebagian kecil dari komunitas tersebut yang tidak mengetahui apa itu punk.
Dandanan yang "lusuh" hanya menjadi ciri khas mereka yang menunjukkan bahwa mereka itu ada bukan untuk ditakuti tapi untuk dilindungi layaknya seorang anak biasa. Bahkan, ada mimpi kecil penulis untuk membuat sebuah rumah singgah anak punk yang mampu merangkul mereka dan membimbing mereka. Semoga terkabul..
Amiinn..

SID @trueMoment

ayo bangun dunia di dalam perbedaan, jika satu tetap kuat kita bersinar
  Harus percaya tak ada yang sempurna, dan dunia kembali tertawa" 

sepenggal lagu yang gue denger cukup indah, kalo tau maksudnya sich sebenernya.. hehehe. Gue Denger lagu ini dari MP4 kesayangan gue yang gue beli pas PRJ lagi buka.. Murah sich, 70 rebu doank(apa nyambungnya ma cerita??).. Liat aja ntar.. Hehehe

Back to lyrics, sepenggal reff lagu milik Superman is Dead band kesayangan gue itu seringkali kembali mengingatkan gue tentang kejadia gue pertama kali nginjekin kaki di kota yang katanya paling ruarrrr biasa di Indonesia ini,,, Ibukota RI ini memang baru pertama kali gue injak pas umur gue baru akan masuk ke 14 tahun.. Aneh yaa?? gue orang kampung banget soalnya, kampung banget malah, hehehhe..

Gue lahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa berpengaruh banget buat hidup gue.. Walopun tinggal di kampunag gue manggilnya juga sama kayak wong koto pada umumnya. "Mama", itu panggilan gue buat wanita luar biasa tersebut. Tapi gak mungkin donk mama "bikin" gue sendirian, emank nyokap hermafrodit.. Ya gaklah,,. Temen hidup yang menjadi laki-laki panutan gue sekaligus orang paling beruntung yang dapetin nyokap gue dan beruntung juga punya anak kayak gue biasa gue panggil "papa".

Awalnya memang sedikit iri dengan orang-orang yang hidup di kota, karena "katanya" semua kemewahan ada disana. Jakarta tentunya yang gue maksud. Tapi semua berangsur pudar pas gue berangkat dan nyampe ke jakarta.

Fenomena itu memang udah umum banget ada di pikiran orang-orang kampung kayak gue.. Dulu tentunya..

back to the story..
Lantunan lagu yang gue denger tadi pernah terdengar mesra dinyanyikan oleh seorang bocah dengan pakaian lusuh tapi keliatan senang. Senyum nya yang lucu dihiasi oleh air minumyang terpaksa dia tinggalkan sejenak karena lampu merah sudah menyala. Dia dateng ke sebuah angkot yang aku tumpangi dan menyanyikan lirik lagu sederhana tapi menggugah tersebut.

Saat itu, aku merasa sangat aneh, seorang anak kecil menyanyi di angkot. Aku masih belum menangkap apa maksud anak tersebut bernyanti dengan cadelnya itu... Hingga akhirnya dia berhenti dan menadahkan tangannya mengharap sesuatu. Dari beberapa orang penumpang yang ada di dalam angkot itu ada satu orang yang keliatannya seorang mahasiswa(yang akhirnya kukenal sebagai saudara gue, nanti di update posting selanjutnya gue ceritain) memberikan selembar uang seribuan ke anak tersebut.

BUZZ...PING...BUZZ...PING...BUZZ...
Gue baru sadar kalo anak manis yang menyanyikan lagu tadi adalah seorang pengamen.. Gubraakk.. gue ngerasa dunia ini aneh.. Jakarta khusunya...
Seorang anak yang ada di depan gw, yang sangat gw yakini punya hak buat lari-larian di sekolah malah harus tersenyum dengan paksaan di bawah belas kasihan orang lain. Beberapa pertanyaan aneh mengusik pikiran gw.

Pertama, aneh ya? anak kecil kok nyari duit?
Kedua, Orang tuanya kemana ya?? Apa nyari duit juga?? tapi kok anaknya ikutan??
Ketiga, Kok orang-orang gak pada kasian?? Cuma 1 atau 2 orang aja yang perhatian?? Kenapa ya??
Keempat, Kenapa gue harus pusing mikirin hal beginian??


"Bayangkan dan senyumlah, Mahkota emas tiada artinya
Ketika raja dan ratu, Memimpin dunia semua bersatu
Dan bersatu.."
 
Perih memang hidup di tempat yang serba ada seperti Jakarta tetapi kita harus hidup dengan sebuah keterbatasan. Pelan namun pasti gue bisa ngejawab semua pertanyaan yang ada pas gue ngedenger lagu yang dinyanyiin sama bocah di angkot waktu itu,,.

Sudah lebih dari 4 tahun gue di jakarta, semua pertanyaan itu terungkap sudah. Anak-anak kecil yang ada di per-4an maupun per-3an itu kini bukan lagi misteri yang terselubung, justru menjadi asa yang terungkap. Mereka adalah anak-anak yang memang harus hidup dengan keterbatasan sehingga terpaksa melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya mereka lakukan. Ortu mereka bukan tidak ada, tapi pergi entah kemana. memang hanya sebagian sich, tapi setidaknya sebuah SELUBUNGMAYA yang ada di dalam pikiran gue sudah mulai terkuak.

Sikap acuh tak acuh oleh masyarakat ke mereka ternyata bukan karena mereka tidak peduli, hanya saja anak-anak kecil yang pada awalnya gue anggep "segelintir" ternyata salah. Mereka sudah begitu banyak tersebar sehingga bukan lagi menjadi pemandangan yang aneh, tapi pandangan yang sudah menjadi kenyataan.

Gue ketemu sama mereka di Monas, Pasar Senen, Jatinegara, Stasiun Bogor, Terminal Depok, di setiap sudut lembab mereka bersembunyi dan berharap mendapatkan sesuap nasi di kota yang kini gue anggep kejam bagi orang yang gak bisa ngalahin ini semua.

Berat memang untuk gue pikirin, tapi setidaknya koar-koar kemahasiswaan serta polah kemahasiswaan gue dulu hingga sekarang mampu menolong mereka walaupun hanya untuk 1 sampai dua menit saja.(jambi)


Repost From selubungmaya.blogspot.com

"Dia"

Dalam benakku.. Lama tertanam...Sejuta bayangan dirimu...
Redup terasa.. Cahaya hati.. Mengingat apa yang tlah kau berikan...
Coba tuk singkirkan... aroma nafas tubuhmu... Mengalir mengisi laju darahku...

Semua tak sama.. dan tak pernah sama.. apa yang kusentuh... apa yang kukecup... sehangat pelukmu... selembut belaimu.. tak ada satu pun yang mampu.. menjadi... sepertimu..

Romansa cinta terdengar pekat dalam syair cerita hati di atas.. Slow but sure istilahnya kata orang, mengingatkan cerita seorang temanku dahulu..
Dia bercerita bahwa perjalanan cintanya sudah berada di penghujung asa.
"Aku telah mendapatkan cinta sejati" ujarnya pada saat itu..

Gelembung ceritera cinta mengalir terus dari hari kehari. Terbang perlahan ke atas singgasana hatinya. Begitu indah terdengar ceritanya pada saat itu. Hingga akhirnya...

Hiks..hiks..hiks...hiks...
terdengar perlahan kudengar di keheningan malam. Pelan namun pasti, ku-samperin suara itu. dan kulihat rico(bukan nama sebenarnya) terduduk di pojok ruangan sembari menangis. Dari situ ceritera yang sebenarnya dimulai.
"Dia selingkuh" hanya itu yang kudengar dari Rico.
Ya itulah cinta yang katanya indah pada saat itu, namun sakit pada akhirnya. Jangan berpedoman pada cinta sesaat tapi berpedomanlah pada cinta kita untuk-Nya.

Semua memang tak sama.. Tapi keyakinan akan kuasa-Nya harus kita samakan.(jambi)

Repost From Selubungmaya.blogspot.com

Kata Orang itu "Baru"

"Baru kusadari kita beranjak dewasa, tak pernah kusadari.. Arti cinta seperti ini..."
"Hore... aku dapet baju Baru", teriak seorang anak kegirangan
"Hari ini aku Baru saja mendapatkan seorang wanita idamanku"

"BARU", sebuah kata yang memang banyak disukai oleh hampir oleh seorang penjuru di dunia. Konotasi kata tersebut menggambarkan sebuah kondisi dan situasi yang menyenangkan. Memang ketika teriakan kegirangan mendapatkan sebuah benda yang memang kita inginkan senantiasa menjadi kenikmatan sendiri. Apalgi bila seorang cowok atau cewek berhasil menggaet pasangan yang dia inginkan. Selidik punya selidik, itu berasal dari kata baru.
Yang menjadi lucu adalah, ketika "BARU", mereka begitu dielu-elukan, disayang, dimanja, layaknya sesuatu yang tidak boleh dipisahkan dari diri kita. Tapi perlahan namun pasti, kata-kata sayang dan suka tersebut berlangsung pudar karena kata "BARU" di awal tadi berganti menjadi " L A M A ".

Aneh memang, tetapi itu adalah sesuatu yang sudah sangat lumrah terjadi. Bukankan kita juga melihat, sesuatu yang kita anggap "LAMA" tersebut masih bisa digunakan ato disayang? tentu sangat bisa. Hanya saja ego untuk mendapatkan yang baru kembali mengalahkan itu semua.

Cermin penderitaan yang kulihat di kawasan kumuh, jembatan, dan dimana saja menjadi sebuah pemicu yang sangat sakit ketika kulihat benda yang ku anggap tidak "BARU" lagi tersebut menjadi sesuatu yang sangat istimewa untuk mereka. Pecutan bathin terasa sangat sakit, entah kenapa.. Aneh memang, tapi itu yang kurasakan.

Menghargai adalah sesuatu yang perlu kita garisbawahi. Faktor yang mampu mempertahankan ke"BARU"an dari munculnya pemikiran jauh lebih sempurna daripada sebuah fisik yang baru. "BARU" bukan berarti menikmati, namun "BARU" itu adalah menghargai apa yang sudah kita dapatkan.(*jambi)


Repost From : selubungmaya.blogspot.com

All "Items" is "Duniaku"

Bermula dari sebuah perkenalan dengan dunia yang membuatku jatuh ke dalam perjalanan panjang. Maya nya kekuatan batin menjadi semakin tertutup oleh fenomena munculnya alien di negeri nyataku. Pelan namun pasti bencana batin maupun lahir muncul secara perlahan. Memang aku sadari bahwa kenikmatan ini hanya sesaat namun yang aku tahu retorika kehidupan yang menjadi alat untuk mengelabui mata menjadi sayu seketika.

Blok blok kedewasaan katanya memang sudah pernah aku lewati, tapi semua berlangsung pudar kala kedewasaan tersebut menjadi senjata pemicu kemunafikan. Ego yang mengatakan aku lah "orang dewasa" memberikan keyakinan salah bahwa aku punya hak untuk menjalani hidup semauku saja.

pilu yang mendera bertambah ketika semua itu terlihat oleh kedua dedengkot yang melahirkan aku ke dunia ini. Rasionalitas hanya berlangsung sesaat. Aku merasa tersingkir oleh kemunafikan kedua dedengkot itu. Semuanya terlambat ketika semuanya memang sudah terasa cukup jelas.

kini aku berdiri dengan sebuah keyakinan bahwa aku ada di sebuah dunia yang benar. Keyakinan itu muncu ketika "all item" dari hidup aku bergerak bebas walaupun harus dengan pandangan aneh dari orang-orang. Yang aku lihat hanya ada bacaan bahwa kini aku di "Rumah Sakit Jiwa Bathin III". Tempat yang nyaman kok buatku.. HAhahahahahhaha(tertawa sendiri yang disambut senyum orang berbaju putih).


Repost from : Selubungmaya.blogspot.com